Selasa, 05 April 2011

Mbah Madura yang Sebatang Kara

Sriwijaya Post - Minggu, 20 Maret 2011 14:12 WIB
DI usia senja, Mbah Madura harus hidup dalam kesendirian alias sebatang kara. Cicit satu-satunya yang ia punyai kini tak tahu entah kemana karena dibawa cucu menantunya.
Ia hidup sendiri di gubuk reot berukuran 3x6 meter dikawasan RT 02 Kelurahan Timbangan Kecamatan Indralaya Utara Ogan Ilir (OI). Hanya kebaikan tetangga yang membuatnya bertahan hidup.
Namun sejak tiga bulan lalu, Mbah Madura sudah sulit berjalan karena sakit. Setiap hari makannya dari pemberian tetangga dan anak-anak remaja Masjid Ghouzail Al Ajmi Al Barok (GA) Nusantara.
Anak-anak ikatan remaja masjid secara sokongan dan bergantian membelikannya nasi bungkus. Terkadang Pak Martin (47), tetangga Mbah Madura menjenguk juga mengambil air atau sekedar memberi makan ala kadarnya. Padahal Pak Martin juga hidup dalam kesusahan.
Sripo yang mengunjungi kediaman Mbah Madura, Sabtu (19/3), miris melihat kehidupan Mbah Madura ini. Gubuk yang ditempati Mbah Madura adalah buatan Pak Martin di tanah milik orang lain.
Hampir tidak ada harta yang dimiliki Mbah Madura ini, kecuali beberapa buah piring, sendok dan ember cat untuk menampung air serta kasur dan kelambu yang sudah kumal.
Menurut Pak Martin, gubuk yang ditempati Mbah Madura dibangun olehnya dari papan bekas karena Pak Martin bekerja sebagai tukang bangunan, jadi ada sisa-sia papan dikumpulnya.
Setahu Pak Martin, Mbah Madura bukan nama sebenarnya. Tetapi Martin sendiri tidak ingat nama orang tua yang berusia sekitar 70 tahun lebih itu.
Dulu ia dan almarhum suaminya adalah transmigran di Banyuasin. Oleh karena tidak berhasil lalu pindah menetap di tanah kosong milik orang di kawasan Pasar Empe Mariana Banyuasin tahun 1995.
“Ketika itu dia masih punya suami dan anak perempuan. Saya tahu karena aku juga pernah tinggal di Pasar Empe, makanya aku tidak nyangka bisa bertemu lagi di sini (OI, red),” ujar Martin.
Suarmi Mbah Madura ini meninggal dunia di Mariana dan anak gadisnya menikah tetapi kemudian meninggal dunia.
“Tetapi ada cucunya perempuan yang menikah dengan orang bernama Yanto. Cucunya juga meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan,” jelas Martin sembari menyebut keberadaan cicitnya tak diketahui.
Untungnya, lanjut Martin, anak-anak IRMA banyak yang peduli dan memberikan makan Mbah Madura sehingga meringankan tugasnya.
Pak Martin mengakui warga sekitar kurang memperdulikan mbah Madura ini. Padahal dulunya Mbah Madura menjadi tukang pijit dan urut di lingkungan tinggalnya.
Mbah Madura saat ditanyai enggan berkomentar. Meski masih lancar bicara, tetapi jawaban yang diberikannya sekenanya saja.
Ketika ditanya soal suaminya, katanya tidak usah diungkit lagi. Menurutnya, suaminya bernama pendekar.
Ia mengaku masih memiliki keluarga di Banyuwangi, Pulau Jawa. Hanya saja dirinya tidak mau bertemu dengan keluarganya karena menyakitkan hati bagi dirinya.
Andri, penasehat IRMA Ghouzail didampingi Ketua IRMA, Hadi Julianto dan Sapta, mengakui mjlereka sudah tiga bulan ini memberikan makan mbah Madura secara bergantian.
“Kami sokongan dan bergilir, kadang aku yang belikan nasi kadang anggota IRMA lainnya,” jelas Andri sambil menyuapi Mbah Madura. (tarso)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar